IMG-20180319-WA0004

RSUD Berikan Penyuluhan Kesehatan Gigi Ke Pasien Poliklinik Gigi

Kota Bekasi – Untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga khususnya di poliklinik gigi Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (IPKRS) bekerjasama dengan poliklinik gigi mengadakan penyuluhan kesehatan gigi di ruang tunggu poliklinik gigi sebelum dimulainya layananan poliklinik gigi, Senin (19/3/2018).

Sebagai narasumber dalam kegiatan ini adalah Spesialis Kedokteran Gigi Anak yang juga menjabat sebagai kepala instalasi rawat jalan RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi drg. H. Darnus, Sp.KGA.

Kegiatan penyuluhan kesehatan gigi yang diikuti sekitar 36 pasien dan keluarga pasien poliklinik gigi ini membahas tentang karies gigi.

drg. Darnus menjelaskan karies gigi adalah salah satu penyakit yang dapat merusak kesehatan serta struktur gigi, Penyakit ini mampu membuat penderitanya merasakan nyeri dan bila tak kunjung ditangani akan mampu menyebabkan kematian.

“Penyakit ini telah tersebar di seluruh dunia termasuk di indonesia, untuk itu perlu diketahui cara untuk menanggulanginya”, lanjutnya.

“Adapun penyebabnya disebabkan keberadaan bakteri dalam mulut yang mengubah sisa makanan, terutama gula, menjadi asam. Bakteri, asam, sisa makanan, dan ludah akan membentuk lapisan lengket yang melekat pada permukaan gigi. Lapisan lengket inilah yang disebut plak. Plak akan terbentuk 20 menit setelah makan. Zat asam dalam plak akan menyebabkan jaringan keras gigi larut dan terjadilah karies. Bakteri yang paling berperan dalam menyebabkan karies adalah Streptococcus mutans”, terangnya.

“Setelah jaringan keras mengalami demineralisasi (mineral email gigi larut dalam asam) maka tanda2 paling awal yaitu adanya white spot (bercak putih di bawah jaringan email). Jadi karies itu mula2 terlihat di bawah email, lambat laun asam tersebut akan mendemineralisasi jaringan email di sekitarnya dan mendemineralisasi dentin juga. Kalau sampai pada keadaan yang parah bisa terkena pulpa di mana banyak terdapat serabut saraf sehingga rasanya sakit sampai tidak bisa tidur”, tambahnya.

Lebih lanjut drg. Darnus mengatakan Gejala Karies ditandai dengan adanya lubang pada jaringan keras gigi, dapat berwarna coklat atau hitam. Gigi berlubang biasanya tidak terasa sakit sampai lubang tersebut bertambah besar dan mengenai persyarafan dari gigi tersebut. Pada karies yang cukup dalam, biasanya keluhan yang sering dirasakan pasien adalah rasa ngilu bila gigi terkena rangsang panas, dingin, atau manis.

“Bila dibiarkan, karies akan bertambah besar dan dapat mencapai kamar pulpa, yaitu rongga dalam gigi yang berisi jaringan syaraf dan pembuluh darah. Bila sudah mencapai kamar pulpa, akan terjadi proses peradangan yang menyebabkan rasa sakit yang berdenyut. Lama kelamaan, infeksi bakteri dapat menyebabkan kematian jaringan dalam kamar pulpa dan infeksi dapat menjalar ke jaringan tulang penyangga gigi, sehingga dapat terjadi abses”, jelasnya.

“Pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter gigi adalah pemeriksaan klinis, disertai dengan pemeriksaan radiografik bila dibutuhkan, tes sensitivitas pada gigi yang dicurigai sudah mengalami nekrosis, dan tes perkusi untuk melihat apakah infeksi sudah mencapai jaringan penyangga gigi”, imbuhnya.

Untuk pencegahannya drg. Darnus menganjurkan yang pertama adalah sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur, dianjurkan sikat gigi pagi setelah makan sebaiknya 30 menit – 1 jam setelah sarapan, jangan baru selesai makan langsung menyikat gigi karena keadaan mulut masih asam sehingga jika disikat justru akan mengikis si gigi tersebut.

“Yang kedua lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi, ketiga hindari makanan yang terlalu manis dan lengket, juga kurangi minum minuman yang manis seperti soda, keempat lakukan kunjungan rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan sekali, kelima perhatikan diet pada ibu hamil dan pastikan kelengkapan asupan nutrisi, karena pembentukan benih gigi dimulai pada awal trimester kedua, dan yang terakhir penggunaan fluoride baik secara lokal maupun sistemik”, anjurnya.

“Sedangkan untuk perawatan biasanya perawatan yang diberikan adalah pembersihan jaringan gigi yang terkena karies dan penambalan (restorasi). Bahan tambal yang digunakan dapat bermacam-macam, misalnya resin komposit (penambalan dengan sinar dan bahannya sewarna gigi), glass ionomer cement, kompomer, atau amalgam”, lanjutnya.

“Pada lubang gigi yang besar dibutuhkan restorasi yang lebih kuat, biasanya digunakan inlay atau onlay, bahkan mungkin mahkota tiruan. Pada karies yang sudah mengenai jaringan pulpa, perlu dilakukan perawatan saluran syaraf. Bila kerusakan sudah terlalu luas dan gigi tidak dapat diperbaiki lagi, maka harus dilakukan pencabutan”, tambahnya.

“Tergantung juga karies letaknya di gigi apa. Kalau di gigi belakang (premolar dan molar) pakai amalgam tapi jeleknya warnanya tidak sewarna gigi tapi kuat, bisa tahan bertahun-tahun atau kalau mahkota giginya udah habis bisa mamakai crown alias mahkota buatan lebih awet namun lebih mahal. Kalau di gigi depan (seri dan taring) bisa pake GIC (glass-ionomer cement) atau resin komposit karena itu sewarna gigi jadi seperti kamuflase”, tutupnya. (Oji – HPI) (foto : aru)

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *